Studi Kultural ‘gak asing buat TPers

ini adalah butir2 catatan tentang Studi Kultural yang dibuat oleh dosen sekaligus (kalau boleh) kakak saya ….alih-alih senior… Kami mengadakan kajian di gedung PSB (Pusat Sumber Belajar di UNJ)

MK “Belajar dan Kinerja” Semester 090 dengan Hirmana

Butir-butir Catatan Hirmana

ketika Diskusi dengan Irsyad Ridho tentang Pengantar Kajian Budaya

29 April 2009

  • Berhati-hatilah, karena ketika kita sedang menerangkan TP, mohon jangan dipersepsikan sama dengan manajemen penyelenggaraan pembelajaran TP, ya? Maksud saya antara TP dan Jurusan KTP itu dua hal yang berbeda terlepas di perguruan tinggi eks IKIP mana.
  • Saya menemukan “kemiripan” epistemologi antara CS (Cultural Studies) dan ET (Educational Technology).

Sama-sama “bernamakan” studi (Definisi TP 2004: Studi dan Praktek Etis …), meskipun CS = Cultural Studies). Baik CS maupun ET sama-sama menyerap berbagai disiplin ilmu (interdisipliner) sedemikian rupa sehingga memberikan nilai tambah. Di Epistemologi TP ini dinamakan isomorfis .  Setelah itu keduanya sama-sama fokus untuk memilah milih sesuai dengan tujuan. Di Epistemologi TP ini dinamakan eklektik. Setelah itu keduanya sama-sama memadupadankan. Di Epistemologi TP ini dinamakan sinergis.

  • Saya mengamati, bahwa antara Definisi TP terkini (2004) dan definisi TP sebelumnya, bahkan yang terdekat pun, itu terdapat suatu lompatan besar, bahkan bisa jadi revolusioner. Maksud saya, definisi-definisi terdahulu TP berorientasikan objektivistik sementara terkini semakin mengarah ke konstruktivistik. “Buktinya” adalah adanya kata appropriate di dalam Definisi 2004 TP. Dengan appropriate seperti ini, ini mensyaratkan bahwa TP semakin inklusif, semakin benar-benar serius di dalam mengutamakan learner-centered, bukan sekedar “lip service” saja seperti tersirat di dalam definisi terdahulu. Tempo hari itu definisi memang sudah mulai mengarah ke learner-centered, tetapi tetap berorientasikan objektivistik yang tidak inklusif melainkan eksklusif.
  • Kalau TP (yang “pusat”nya di AS sana) memang mau terus konsisten dan konsekuen, maka ia harus juga mau belajar dan mengikutsertakan CS dong sebagaimana yang sudah diisyaratkan dengan appropriate disebut di atas.  Kalau itu (saya yakin suatu saat itu akan terjadi) terjadi, maka yang selama ini kita diperdengarkan atau didengangdengungkan bahwa teknologi itu bebas nilai bergantung pada siapa dan bagaimana yang menggunakannya”, maka ini harus ditinjau ulang.  Paling tidak, sekarang ini, saya sedang memulai mencerna dari CS bahwa teknologi itu tidaklah bebas nilai bahkan sangat terkait dengan kebudayaan! Di dalam bahasa Inggris barangkali istilahnya adalah culture-bound technology (yaitu teknologi yang “terikat” dengan atau secara budaya”). Ketika ini terkait dengan kebudayaan, maka isu efisiensi, produktivitas yang selama ini dianggap sebagai nilai tambah yang diberikan oleh teknologi kini menjadi tidak relevan lagi (meaningless) bagi orang yang sedang berhadapan dengan teknologi. Masih ingat cerita Pak Irsyad tentang traktor (mekanisasi pertanian) jaman Orde Baru terdahulu untuk menggantikan sapi atau kerbau pembajak sawah sahabat para petani?
  • Apabila sejak sekarang ini kita sebagai TPers dan Tekiners lebih kritis dengan “dogma” bahwa teknologi itu bebas nilai bergantung pada siapa dan bagaimana yang menggunakannya” dan cenderung bersikap bahwa teknologi itu justru dibaluti oleh kebudayaan manusia yang menggunakannya, maka mari kita berhati-hatilah di dalam mewujudkan Definisi TP 2004 ini. Ingat Definisi TP adalah “syahadat” kita sehar-hari. Dengan demikian kita harus bukan hanya sekedar hapal, akan tetapi semakin menghayatinya dari satu hari ke hari lain.

edco-debate-round3-uzs 027

Misalnya, facilitating learning. Masih ingat, kan? Di dalam definisi jadul, TP “ditakdirkan” hanya untuk memfasilitasi belajar saja. Itu saja. Sekarang di 2004 selain itu ada juga improving performance. Nah, kalau dahulu, saya, misalnya “sok tahu”, bahwa dengan cara-cara teknologi, yaitu di antaranya, isomorfis, eklektik, sinergis itu sudah beres semua, akan tetapi dengan masukan dari CS atau kajian budaya ini saya menjadi lebih waspada dan berhati-hati. Maksud saya, meskipun kita misalnya berniat baik mau memfasilitasi belajar dan selanjutnya memperbaiki kinerja, tetapi malah yang terjadi sebagai outputs dan outcomes malah sebaliknya. Belajar dan kinerja malah menjadi tidak lebih baik, boro-boro bernilai tambah, bermakna, bermanfaat bagi sasaran kalau demikian, kan?

Mengapa ini bisa terjadi dan pernah atau sering terjadi di kalangan kita selama ini? Menurut hemat saya adalah ini karena TPers (UNJ) selama ini sangat terlalu dan hanya itu saja dipengaruhi oleh psikologi yang unit analisisnya orang perorang. Bandingkan dengan CS atau kajian budaya yang, kata Pak Irsyad hari ini, selalu mengaitkan antara identitas dan relasi atau konteks kebudayaan di mana ia sedang berada. Kita selama ini lupa bahwa sasaran kita itu tidak “berdiri sendiri” melainkan berasal dari suatu konteks.  Kalau kita selalu ingat bahwa sasaran kita ini selalu berkonteks, maka kita akan semakin dekat dengan appropriate yang disyaratkan oleh definisi terkini 2004 itu.

  • Sekarang kaitan ADDIE alias Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation, dan CS atau kajian budaya. TPers dan Tekiners yang mempunyai wawasan CS yang mumpuni akan sungguh-sungguh berhati-hati ketika ia sedang melakukan prinsip dan prosedur ini. Ketika kita sedang menganalisis, kita sebetulnya sedang membongkar atau mendekoding (decoding), bukan? Nah, dengan wawasan CS yang sudah dimiliki, maka TPers dan Tekiners tidak akan berpikiran sempit apalagi picik. Demikian juga ketika ia sedang mendesain yang sebetulnya ia sedang menenkoding (encoding) itu. Ia juga tidak akan sempit dan picik atau bahasa frekuensi radionya adalah mono dengan gelombang AM, MW, atau SW.
  • Dua butir terakhir untuk kali ini.

Selama ini kita dibelajarkan TP (yang sebetulnya teknologi adalah sebuah kebudayaan) itu TP hanya sekedar TP sebagai sesuatu objek, bukan subjek yang harus dibudayakan, diinternalisasikan ke dalam kita sebagai subjek. Selama TP diterima sebagai objek di luar individu TPers, maka selama itulah TP tidak akan mampu dipahami secara utuh apalagi dihayati. Oleh karenanya selama ini saya ngotot dengan pembiasaan cara TPers bekerja. Istilah saya selama ini etos berpikir, bersikap, berperilaku TPers dan Tekiners. Sebuah etos hidup sehari-hari!

Terkait dengan identitas baik ditilik dari perspektif kelas, gender, agama, etnis, ras, gaya beragama, dst yang bersifat cair atau situasional relasional di dalam suatu konteks itu, maka demikian halnya dengan media. Selama ini “definisi” yang ditanamkan di kita adalah kalau alat bantu atau alat peraga diberi pesan atau bahan ajar, maka ia “menjadi” media.  Sekarang, dengan pemerkayaan perspektif CS atau kajian budaya, saya menjadi lebih waspada.  Bisa jadi media pembelajaran yang saya sudah capek-capek buat (encoding) tetapi didekoding secara “salah” atau tidak “tepat”, tidak appropriate tadi, gara-gara saya tidak memasukkan pertimbangan kajian budaya di dalam mendesain pesan untuk media dimaksud.

Iklan

Tentang imraan muslim

imraan muslim adalah seorang merupakan mahasiswa (prodi) Teknologi Pendidikan dengan konsentrasi pada Human Performance Technology. Saya biasa dipanggil imronQren, juga memiliki e-mail di imron_qren@yahoo.co.id imraanmuslim@gmail.com Impian saya masih akan beberapa tahun lagi dari sejak saya tulis ini (), beberapa adalah : 1. Menyelenggarakan suatu event seminar ataupun training berskala besar, menjadi pembicara di suatu pelatihan berskala besar,... 2. Mengelola SDM sekolah yang ada di Bojonggede, 3. Membangun sekolah berstandar nasional yang unik nan unggul di Bojonggede, 4. Membangun Pusat Sumber Belajar yang terlengkap dgn beragam program/pelayanan di Bojonggede, 5. Membangun iQ-Land di Bojonggede-Cibinong sesuai dengan konsep MICE, akulturasi budaya, nintendo-IPTEK-indonesia, Apakah Anda berminat untuk mendukung dan berpartisipasi menggapai impian saya ?! Tantangan besar dan berat memang ... tapi selalu ada jalan untuk orang yang bermimpi !!
Pos ini dipublikasikan di meng-inspirasi diri dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Studi Kultural ‘gak asing buat TPers

  1. maydina berkata:

    yupp…stuju..btw raan…mau bantu penyelenggaraan outing forum belajar kreatif gak tuk para volunteernya?..kalo mau tar tak kabari..;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s