Tugas Pengelolaan Perilaku Siswa

Kelompok 4

Imraan Muslim

<

Pertanyaan :

1. Identifikasikan perilaku-perilaku buruk peserta didik

2. Kemukakan teknik yang menjadi solusi agar perilaku buruk tersebut tidak terjadi dan bagaimana apabila telah terjadi ? (berikan dua contoh saja)

Jawaban :

Perilaku buruk peserta didik adalah segala perilaku siswa yang muncul dan dapat mengganggu pencapaian pembelajaran di kelas. Perilaku buruk ini dapat berupa :

a. berlari-lari di dalam kelas saat pendidik sedang memberikan pengajaran.

b. mengganggu teman sekelasnya yang sedang memperhatikan pendidik memberikan pengajaran.

c. berteriak-teriak di dalam kelas saat pendidik sedang memberikan pengajaran.

Teknik yang dapat menjadi solusi bagi perilaku buruk siswa di kelas menurut pendapat kami adalah:

a. Berlari-lari di dalam kelas saat pendidik sedang memberikan pengajaran :

pendidik memberikan tindakan pencegahan dengan mengajak peserta didik menyepakati tata tertib untuk tidak berlari-lari di dalam kelas. Tindakan pencegahan lain adalah dengan mengajak peserta didik (kelas) melakukan suatu tugas yang dapat dilakukan bersamaan dengan pengajaran pendidik, seperti menulis materi yang diberikan pendidik (lebih dikenal dengan ‘mendikte’ tulisan). Tindakan lain bila perilaku buruk tersebut telah terjadi adalah dengan memanggil nama peserta didik tersebut seraya menghentikan tindakannya dan mempersilahkannya kembali ke tempat duduknya. Tindakan berikutnya adalah setelah jam pelajaran telah selesai, pendidik mengajak bicara peserta didik dan memberikannya pemahaman tentang perilakunya di kelas dan bagaimana dampaknya terhadap situasi kelas dan seluruh orang yang ada di kelas.

b.Mengganggu teman sekelasnya yang sedang memperhatikan pendidik memberikan pengajaran

Pendidik memberikan pengarahan dan pemahaman terlebih dahulu tentang tata tertib untuk tidak mengganggu teman sekelas ketika sedang memperhatikan pendidikpengelolaankelas di awal kelas. Tindakan setelah perilaku itu terjadi adalah dengan menarik perhatian peserta didik di kelas pada materi atau tindakan pendidik untuk mengalihkan kembali konsentrasi peserta didik. Tindakan lanjutan bila perilaku peserta didik tetap berusaha mengganggu kelas adalah dengan menatap mata peserta  didik tersebut. Bila tindakan lanjutan diperlukan adalah dengan menghampiri tempat duduk peserta didik tersebut dan membuatnya tenang.

Iklan
Dipublikasi di 1, Inspirasi Tugas Kuliah | Tag , , , , , | 4 Komentar

united tractors tbk. dari mata mahasiswa Analisis Kebutuhan Pelatihan

PT UNITED TRACTORS. Tbk

Jalan Raya Bekasi Timur. Km22

Cakung Jakarta Timur. 13190

Profil perusahaan.

U nited Tractors (UT / Perseroan) didirikan pada 13 Oktober 1972 sebagai distributor eksklusif alat berat Komatsu di Indonesia. Di 19 September 1989, Perusahaan go public dan mencatatkan sahamnya di Jakarta dan Bursa Efek Surabaya seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), dengan PT Astra International Tbk sebagai pemegang saham mayoritas.

Visi :

Untuk menjadi kelas dunia perusahaan berorientasi solusi dalam alat berat,

pertambangan, dan energi untuk kepentingan steakholder.

Misi :

* Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk meningkatkan status sosial mereka dan pemenuhan diri berdasarkan prestasi berharga.
* Mengembangkan kemampuan suplai suku cadang dan komponen atas bermacam merk dan produk untuk alat berat dan truk.
(petikan wawancara berikut berasal dari sumber internal yang memiliki hubungan informal, sehingga kami memohon maaf apabila ada kekurangan dari tulisan ini. Dedikasi pada sdri. Septi TP’05 dan dosen kami, Bpk. Robinson Situmorang)

1. Apakah analisis kebutuhan program selalu menjadi dasar pengembangan program model yang digunakan ?

Jawab:

Ya, karna setiap product mempunyai model yang berbeda-beda dan harus didukung dengan fasilitas atau pengetahuan tentang model tersebut. Oleh karna itu diadakan pengenalan product dan training tentang product tersebut serta Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan operator dan mekanik konsumen, PT United Traktor menyediakan Program Pelatihan untuk konsumen. Program pelatihan ini dapat dilaksanakan di lokasi konsumen ataupun di Pusat Pelatihan PT Traktor Nusantara atau di cabang-cabang P.T. United Tractors terdekat.

2. Seandainya selalu melakukan itu, apa kecenderungan model yang digunakan ?

Jawab: New Model After Modification (berdasarkan improvement from custumer)

3. Mengapa menggunakan model tersebut?

Jawab:

Karna mempunyai keunggulan dari model lain. Selain irit dan efisien, juga mempuyai produktfitas yang tinggi. Dan harga yang terjangkau, serta spareparts(suku cadang ) yang lengkap dan pelayanan mainternance yang memadai.

4. Setelah menggunakan model analisa model tersebut, apakah merancang rencana strategis berdasarkan analisa kebutuhan?

Jawab:

Ya, pastinya dimana supaya penjualan product laku di pasaran. Yaitu dengan menggunakan sales dan promotion serta pameran-pameran.

5. Apakah ada dokumen-dokumen yang dipelajari?

Jawab: dokumen profil perusahaan dan produk menjadi bahan bahan acuan untuk pengadaan pelatihan untuk para karyawan.

Hasil Analisis sementara : Pada diklat Perusahaan Air Minum Palyja, analisis kebutuhan pelatihan dilakukan dengan melihat pada aspek pekerjaan. Tugas apa yang yang harus dapat dilakukan oleh karyawan. Namun, dilihat dari aspek perusahaan, analisis kebutuhan pelatihan juga melibatkan visi-misi perusahaan sebagai perusahaan yang mampu melayani karyawan dan konsumen sebagai pengguna produk. Dapat dikatakan menurut McGeHee & Thayer,1961, perusahaan ini melewati tiga aspek organisasi, tingkat pekerjaan dan individu karyawan.

Dipublikasi di 1, performance technology | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

edco 2009 !!! berPrestaSI !!

Excecutive Summaryedco-debate-round3-uzs 013

oleh Imraan Muslim

English Debating Competition (EDCO) 2009

Universitas Negeri Jakarta, June, 12-14 2009

Kompetisi adalah salah satu cara untuk mencapai prestasi. Kebutuhan untuk berprestasi adalah salah satu bentuk motivasi. Kompetisi dapat terjadi untuk berbagai hal. Persaingan antar pedagang dan pengusaha untuk mencari keuntungan, bahkan untuk persaingan untuk berprestasi diberbagai bidang.

Kompetisi untuk berprestasi untuk program studi kita, Teknologi Pendidikan, muncul ketika datang peluang dari panitia English Debating Competition (EDCO) 2009 yang mengundang jurusan kita untuk mengikuti kompetisi debat yang akan mereka adakan. Kompetisi debat dalam bahasa Inggris ini merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bagaimana potensi mahasiswa TP dalam bidang  debat bahasa Inggris.

Kami mengikuti kompetisi debat yang didakan oleh Jurusan Bahasa Inggris untuk menjaring mahasiswa yang berpotensi mengikuti debat di tingkat nasional (Brawijaya, PIMNAS 2009). Total peserta yang mengikuti kompetisi debat ini sebanyak 14 tim dari berbagai jurusan di Universitas Negeri Jakarta.

Kompetisi ini akan menggunakan format debat Asian Parliamentary yang terdiri dari 3orang dalam satu timnya. Kompetisi diikuti oleh maksimum 2 tim dari berbagai jurusan atau program studi yang diundang untuk mengirimkan perwakilannya.

Detil laporan utama untuk tim debat dari program studi Teknologi Pendidikan adalah sebagai berikut :

l  Tim yang dikirim sebanyak dua tim, didampingi oleh Imraan Muslim (TP’06)

l  Tim pertama (1) terdiri dari Ubaidah (TP’07), Hikmah (TP’07) dan Sarah Saskia (TP’08)

l  Tim kedua (2) terdiri dari Amelia (TP’08), Amanda (TP’8) dan Zahrotul Uyun (TP’08)

l  Kita telah melakukan 3 kali pertemuan untuk pembentukan dan latihan bersama.

Setiap kegiatan debat dipandu oleh suatu topik yang menjadi mosi untuk didebatkan oleh peserta. Mosi debat ini biasanya adalah topik-topik yang sedang (masih) hangat dibicarakan masyarakat. Kompetisi dengan format debat Asian Parliamentary meminta dua tim yang terdiri dari Affirmative Team dan Negative Team. Mereka terdiri dari tiga orang untuk menjadi pembicara dengan ketentuan tertentu (dilampirkan).

Hasil yang menggembirakan dari kompetisi ini adalah kedua tim dapat lolos menuju perdelapan final (Sabtu, 13/6) dan meneruskan ke babak perempat final (Minggu, 14/6). Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa TP berpotensi untuk menggapai prestasi. Pengenalan dan pengembangan potensi ini tidak bisa hanya menjadi suatu hal yang taken for granted untuk hal-hal yang hanya sekali dan temporer.

Fasilitasi pengembangan potensi mahasiswa TP harus dilakukan oleh berbagai pihak, khususnya Jurusan dan HMJ TP. Fasilitasi ini harus dipandang sebagai suatu bentuk investasi untuk menggapai prestasi. Prestasi tidak saja untuk mahasiswa itu sendiri tapi juga untuk Jurusan dan HMJ TP. Prestasi tidak saja berarti pengembangan keterampilan dan kemampuan mahasiswa tapi juga suatu bentuk untuk menunjukkan nilai tambah  HMJ TP dan gengsi Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.

Laporan ini merupakan suatu bentuk kewajiban saya sebagai pendamping mahasiswa yang mengikuti kompetisi debat tingkat universitas ini. Kewajiban karena ada suatu bentuk tanggung jawab ketika saya mencoba menangkap peluang yang ada di depan mata. Tanggung jawab ketika saya menyebarkan informasi dan mempengaruhi mahasiswa untuk mengikuti kompetisi debat ini. Tanggung jawab karena saya masih mahasiswa Teknologi Pendidikan dan tentunya anggota HMJ TP.

Kabar gembira dari kompetisi debat ini adalah bahwa tim ke-2 berhasil menjadi juara ke tiga (3/ 2nd runner up) di bawah tim wakil dari Fakultas Ekonomi dan Tim English-1. Tim kedua (2) terdiri dari Amelia (TP’08), Amanda (TP’8) dan Zahrotul Uyun (TP’08) sebenarnya kami prediksi menjadi underdog ketika masuk ke Quarter Final bersama Tim TP-1. Putaran pertama kompetisi, tim TP-1 berada di peringkat ke 4 dan tim TP-2 berada di peringkat 10. Namun melewati Quarter Final, ternyata tim TP-2 lah yang masuk ke Final menghadapi tim Ekonomi. Sungguh pencampaian yang luar biasa.

Satu hal lagi, peserta terbaik dengan predikat Best Speaker selama debat untuk seluruh peserta, diberikan kepada Ubaidah (TP’07). Sungguh prestasi yang membanggakan. Banyak adjudicator memberikan evaluasi yang membangun untuk tim TP ini.

Bagaimana kelanjutannya ?

Mahasiswa, Jurusan, dan HMJ TP harus dapat mengambil peluang yang ada di depan mata untuk pencapaian prestasi. Prestasi dapat berarti pengembangan diri, peningkatan nilai tambah dan nilai jual untuk siapapun yang mau berlomba-lomba dalam prestasi. Hal ini tidak akan bisa dianggap biasa saja. Momentum ini sekaligus mendukung diharuskannya pembinaan yang kontinuitas untuk pengembangan potensi mahasiswa TP, apapun itu (tentunya khususnya yang dikompetisikan, seperti : Penulisan Ilmiah, Pekan Kreativitas Mahasiswa, dsb). Demikian laporan dari saya. Pribadi yang mudah salah ini mohon maaf atas segala kekurangan.

Salam Prestatif !

Imraan Muslim (TP’06)

1215 06 1040

Dipublikasi di 1, meng-inspirasi diri | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Studi Kultural ‘gak asing buat TPers

ini adalah butir2 catatan tentang Studi Kultural yang dibuat oleh dosen sekaligus (kalau boleh) kakak saya ….alih-alih senior… Kami mengadakan kajian di gedung PSB (Pusat Sumber Belajar di UNJ)

MK “Belajar dan Kinerja” Semester 090 dengan Hirmana

Butir-butir Catatan Hirmana

ketika Diskusi dengan Irsyad Ridho tentang Pengantar Kajian Budaya

29 April 2009

  • Berhati-hatilah, karena ketika kita sedang menerangkan TP, mohon jangan dipersepsikan sama dengan manajemen penyelenggaraan pembelajaran TP, ya? Maksud saya antara TP dan Jurusan KTP itu dua hal yang berbeda terlepas di perguruan tinggi eks IKIP mana.
  • Saya menemukan “kemiripan” epistemologi antara CS (Cultural Studies) dan ET (Educational Technology).

Sama-sama “bernamakan” studi (Definisi TP 2004: Studi dan Praktek Etis …), meskipun CS = Cultural Studies). Baik CS maupun ET sama-sama menyerap berbagai disiplin ilmu (interdisipliner) sedemikian rupa sehingga memberikan nilai tambah. Di Epistemologi TP ini dinamakan isomorfis .  Setelah itu keduanya sama-sama fokus untuk memilah milih sesuai dengan tujuan. Di Epistemologi TP ini dinamakan eklektik. Setelah itu keduanya sama-sama memadupadankan. Di Epistemologi TP ini dinamakan sinergis.

  • Saya mengamati, bahwa antara Definisi TP terkini (2004) dan definisi TP sebelumnya, bahkan yang terdekat pun, itu terdapat suatu lompatan besar, bahkan bisa jadi revolusioner. Maksud saya, definisi-definisi terdahulu TP berorientasikan objektivistik sementara terkini semakin mengarah ke konstruktivistik. “Buktinya” adalah adanya kata appropriate di dalam Definisi 2004 TP. Dengan appropriate seperti ini, ini mensyaratkan bahwa TP semakin inklusif, semakin benar-benar serius di dalam mengutamakan learner-centered, bukan sekedar “lip service” saja seperti tersirat di dalam definisi terdahulu. Tempo hari itu definisi memang sudah mulai mengarah ke learner-centered, tetapi tetap berorientasikan objektivistik yang tidak inklusif melainkan eksklusif.
  • Kalau TP (yang “pusat”nya di AS sana) memang mau terus konsisten dan konsekuen, maka ia harus juga mau belajar dan mengikutsertakan CS dong sebagaimana yang sudah diisyaratkan dengan appropriate disebut di atas.  Kalau itu (saya yakin suatu saat itu akan terjadi) terjadi, maka yang selama ini kita diperdengarkan atau didengangdengungkan bahwa teknologi itu bebas nilai bergantung pada siapa dan bagaimana yang menggunakannya”, maka ini harus ditinjau ulang.  Paling tidak, sekarang ini, saya sedang memulai mencerna dari CS bahwa teknologi itu tidaklah bebas nilai bahkan sangat terkait dengan kebudayaan! Di dalam bahasa Inggris barangkali istilahnya adalah culture-bound technology (yaitu teknologi yang “terikat” dengan atau secara budaya”). Ketika ini terkait dengan kebudayaan, maka isu efisiensi, produktivitas yang selama ini dianggap sebagai nilai tambah yang diberikan oleh teknologi kini menjadi tidak relevan lagi (meaningless) bagi orang yang sedang berhadapan dengan teknologi. Masih ingat cerita Pak Irsyad tentang traktor (mekanisasi pertanian) jaman Orde Baru terdahulu untuk menggantikan sapi atau kerbau pembajak sawah sahabat para petani?
  • Apabila sejak sekarang ini kita sebagai TPers dan Tekiners lebih kritis dengan “dogma” bahwa teknologi itu bebas nilai bergantung pada siapa dan bagaimana yang menggunakannya” dan cenderung bersikap bahwa teknologi itu justru dibaluti oleh kebudayaan manusia yang menggunakannya, maka mari kita berhati-hatilah di dalam mewujudkan Definisi TP 2004 ini. Ingat Definisi TP adalah “syahadat” kita sehar-hari. Dengan demikian kita harus bukan hanya sekedar hapal, akan tetapi semakin menghayatinya dari satu hari ke hari lain.

edco-debate-round3-uzs 027

Misalnya, facilitating learning. Masih ingat, kan? Di dalam definisi jadul, TP “ditakdirkan” hanya untuk memfasilitasi belajar saja. Itu saja. Sekarang di 2004 selain itu ada juga improving performance. Nah, kalau dahulu, saya, misalnya “sok tahu”, bahwa dengan cara-cara teknologi, yaitu di antaranya, isomorfis, eklektik, sinergis itu sudah beres semua, akan tetapi dengan masukan dari CS atau kajian budaya ini saya menjadi lebih waspada dan berhati-hati. Maksud saya, meskipun kita misalnya berniat baik mau memfasilitasi belajar dan selanjutnya memperbaiki kinerja, tetapi malah yang terjadi sebagai outputs dan outcomes malah sebaliknya. Belajar dan kinerja malah menjadi tidak lebih baik, boro-boro bernilai tambah, bermakna, bermanfaat bagi sasaran kalau demikian, kan?

Mengapa ini bisa terjadi dan pernah atau sering terjadi di kalangan kita selama ini? Menurut hemat saya adalah ini karena TPers (UNJ) selama ini sangat terlalu dan hanya itu saja dipengaruhi oleh psikologi yang unit analisisnya orang perorang. Bandingkan dengan CS atau kajian budaya yang, kata Pak Irsyad hari ini, selalu mengaitkan antara identitas dan relasi atau konteks kebudayaan di mana ia sedang berada. Kita selama ini lupa bahwa sasaran kita itu tidak “berdiri sendiri” melainkan berasal dari suatu konteks.  Kalau kita selalu ingat bahwa sasaran kita ini selalu berkonteks, maka kita akan semakin dekat dengan appropriate yang disyaratkan oleh definisi terkini 2004 itu.

  • Sekarang kaitan ADDIE alias Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation, dan CS atau kajian budaya. TPers dan Tekiners yang mempunyai wawasan CS yang mumpuni akan sungguh-sungguh berhati-hati ketika ia sedang melakukan prinsip dan prosedur ini. Ketika kita sedang menganalisis, kita sebetulnya sedang membongkar atau mendekoding (decoding), bukan? Nah, dengan wawasan CS yang sudah dimiliki, maka TPers dan Tekiners tidak akan berpikiran sempit apalagi picik. Demikian juga ketika ia sedang mendesain yang sebetulnya ia sedang menenkoding (encoding) itu. Ia juga tidak akan sempit dan picik atau bahasa frekuensi radionya adalah mono dengan gelombang AM, MW, atau SW.
  • Dua butir terakhir untuk kali ini.

Selama ini kita dibelajarkan TP (yang sebetulnya teknologi adalah sebuah kebudayaan) itu TP hanya sekedar TP sebagai sesuatu objek, bukan subjek yang harus dibudayakan, diinternalisasikan ke dalam kita sebagai subjek. Selama TP diterima sebagai objek di luar individu TPers, maka selama itulah TP tidak akan mampu dipahami secara utuh apalagi dihayati. Oleh karenanya selama ini saya ngotot dengan pembiasaan cara TPers bekerja. Istilah saya selama ini etos berpikir, bersikap, berperilaku TPers dan Tekiners. Sebuah etos hidup sehari-hari!

Terkait dengan identitas baik ditilik dari perspektif kelas, gender, agama, etnis, ras, gaya beragama, dst yang bersifat cair atau situasional relasional di dalam suatu konteks itu, maka demikian halnya dengan media. Selama ini “definisi” yang ditanamkan di kita adalah kalau alat bantu atau alat peraga diberi pesan atau bahan ajar, maka ia “menjadi” media.  Sekarang, dengan pemerkayaan perspektif CS atau kajian budaya, saya menjadi lebih waspada.  Bisa jadi media pembelajaran yang saya sudah capek-capek buat (encoding) tetapi didekoding secara “salah” atau tidak “tepat”, tidak appropriate tadi, gara-gara saya tidak memasukkan pertimbangan kajian budaya di dalam mendesain pesan untuk media dimaksud.

Dipublikasi di meng-inspirasi diri | Tag , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

TP yang Tekiners …bersinergi dengan Entrepreneurship

Bayangkan Sinergi Quantum yang Mungkin Dihasilkan

Ketika Dunia TP/Tekin dan Entrepreneurship Diintegrasikan!

oleh: Hirmana

Jakarta, Mei 2009

Ringkasan Dunia TP/Tekin:

Di latar dunia nyata pendidikan dan pelatihan TPers dan Tekiners menganalisis dan mengidentifikasi secara kritis (yaitu dengan otak kiri) kesenjangan antara kondisi ideal dan aktual kinerja manusia (yaitu yang terkait dengan pengetahuannya, keterampilannya, dan apa pun selain kedua itu).

Atas kesenjangan yang telah diidentifikasi itu, TPers dan Tekiners menawarkan solusi kreatif (yaitu dengan otak otak kanan), solusi yang bersifat:

– instruksional (untuk kesenjangan terkait pengetahuan dan ketrampilan), dan

– noninstruksional (untuk kesenjangan terkait apa pun selain kedua itu)

Agar sistemik dan sistematis, TPers dan Tekiners menggunakan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation)

Ringkasan Dunia Entrepreneurship:

Di latar dunia nyata pasar (pasar baik di dalam pengertian secara sempit harafiah maupun luas metaforik) Entrepreneurs mengobservasi dan mendiskoveri/menemukan adanya kesenjangan antara permintaan (demand) dan penawaran (supply). Secara kreatif Entrepreneurs kesenjangan ini menjadi peluang. Ingat definisi Peter Drucker: Entrepreneurs search changes (selain perubahan changes juga berarti kesenjangan), respond to them, and exploit them into opportunity). Ingat juga definisi Ciputra: Entrepreneurs mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas.

Keunggulan Komparatif Dunia TP/Tekin Dibandingkan Entrepreneurship:

Memberikan Entrepreneurs paket bekerja “merasa kreatif (sistemik) dan berpikir kritis (sistematis)”, yaitu ADDIE.

Keunggulan Komparatif Dunia Entrepreneurship Dibandingkan TP/Tekin:

Memberikan TPers dan Tekiners wawasan dan keterampilan tentang konteks dunia nyata pasar di mana di pasar itu terdapat peluang, yaitu adanya permintaan, baik produk maupun jasa, yang belum dipenuhi oleh pihak yang bias menawarkan produk dan jasa). Entrepreneurship juga memberikan TPer dan Tekiners wawasan dan keterampilan untuk tidak hanya sekedar bekerja secara ADDIE, akan tetapi bagaimana dengan ADDIE ini produk dan jasa TP/Tekin bisa juga menjadi emas.

Dipublikasi di 1, meng-inspirasi diri, performance technology | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

TPers yang TeKiners …

sselalu saja ada hal yang dapat di pelajari dari kehidupan kita… termasuk bagaimana TP haharus sudah mulai bergerak kembali menghadapi perubahan tren dalam kehidupan kita …

TPers …akan mulai mengenal TeKiners …

Dosen kita, R.A Hirmana Wargahadibrata mulai melihat adanya langkah lebih lanjut tidak hanya pada Tekiners saja tapi pada studi budaya yang harus dapat dilihat oleh seorang TPers …

Secara ontologi ..memang TP begitu adanya …tapi secara epistemologi, TPers harus melangkah lebih lanjut !

Dipublikasi di meng-inspirasi diri | Tag , , , | 1 Komentar

HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2009

hardiknas berlansung hari ini. Jakarta memusatkan perayaan di DEPDIKNAS, JL. Jend. Sudirman …

pendidikan

pagi ini pula, UNJ mengadakan upacara dan aksi peduli pendidikan …

SELAMAT HARI PENDIDIKAN !

PENDIDIKAN untuk SEMUA !

Dipublikasi di meng-inspirasi diri | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

style baru …

rasa pisang, enak kan …

Dipublikasi di 1, tentang saya | Tag | Meninggalkan komentar

TOR Evaluasi Kegiatan …

FORMAT KERANGKA ACUAN KEGIATAN

Perencana : Imraan Muslim

Unit Organisasi : HMJ TP 2009

Satker : Biro PSDM

Program : Forum Evaluasi

Kegiatan : Evaluasi Departemen

Sub Kegiatan : Kinerja Pengurus

Detil Kegiatan :

1.Latar Belakang a. Dasar Hukum AD/ART HMJ TP, VISI-MISI HMJ TP 2009, Tugas dan Wewenang Kerja Biro PSDM b. Gambaran Umum Kegiatan evaluasi kinerja adalah suatu hal yang penting bagi organisasi yang ingin menempatkan posisinya dalam tingkatan organisasi yang terkendali. Evaluasi kinerja merupakan suatu aspek dalam menilai keberhasilan kerja organisasi. Evaluasi kinerja ini harus dilakukan dengan melihat subjek yang ingin dievaluasi. Evaluasi kinerja harus melacak pada kerja-kerja departemen dalam organisasi tersebut. Departemen dalam organisasi HMJ TP 2009 berperan penting sebagai ujung tombak bentuk kerja pelayanan HMJ TP 2009 kepada mahasiswa TP di jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitaz Negeri Jakarta.

2.Kegiatan yang Dilaksanakan

a. Uraian Kegiatan Kegiatan dalam Forum Evaluasi yang akan dilaksanakan ini dilakukan dalam dua kegiatan yang fleksibel dan terpisah. Kegiatan pemberian materi dan kegiatan evaluasi. Kegiatan pemberian materi merupakan sebuah fasilitasi bagi pengurus HMJ TP dalam meningkatakan kualitas diri sebagai anggota organisasi. Kegiatan evaluasi dibuat dalam dua kegiatan. Kegiatan evaluasi yang dilakukan pertama adalah mengevaluasi kinerja departemen dalam melaksanakan peran, tugas dan program kerjanya. Kegiatan evaluasi kedua adalah mengevaluasi kinerja individu sebagai pengurus dan anggota HMJ TP 2009.

b. Batasan Kegiatan Kegiatan evaluasi dibatasi pada peran, tugas dan program kerja yang telah dibuat oleh departemen selama satu periode. Evaluasi kinerja individu juga dibatasi pada kriteria pengurus HMJ TP 2009 dan tanggung jawab pada program kerjanya.

3.Maksud dan Tujuan

a. Maksud Kegiatan Kegiatan dalam Forum Evaluasi ini dimaksudkan untuk memudahkan tugas Ketua HMJ TP 2009 dalam menilai kinerja departemen dan organisasi HMJ TP 2009 secara keseluruhan.

b. Tujuan Kegiatan Merancang rencana peningkatan kualitas diri. Membuat standar penilaian kinerja departemen. Mendata profil departemen dan biro. Mengukur pencapaian kinerja departemen.

4.Indikator Keluaran dan Keluaran

a. Indikator Keluaran (kualitatif) : Membuat rencana penyampaian materi pengetahuan Merancang rencana peningkatan kualitas diri. Membuat standar penilaian kinerja departemen. Mendata profil departemen dan biro. Mengukur pencapaian kinerja departemen.

b. Keluaran (Kuantitatif) : Setiap pertemuan Forum Evaluasi, seluruh peserta membuat satu artikel tentang kualitas diri, minimal 3 kali dalam satu periode. Setiap peserta membuat rencana peningkatan kualitas diri; baca buku, klub bakat-minat, dll. Di update setiap pertemuan, minimal 2 kali pertemuan. Adanya form penilaian kinerja yang selalu terbarui, minimal 3 kali. Adanya profil departemen dan biro. Adanya form penilaian kinerja departemen dan biro.

5.Cara Pelaksanaan Kegiatan

Metode Pelaksanaan :

Agenda Waktu : 3 bulan sekali: April, Juli, Oktober, Desember.

Sumberdaya : minimal 3 staf Biro PSDM, 4 anggota tiap departemen dan biro

Perangkat : Presensi, Form Biodata, AD/ART dan GBPO HMJ TP 2009, …

Tahapan Kegiatan : Penerapan model evaluasi empat level dari Kirkpatrick dalam pelatihan dapat diuraikan dengan persyaratan yang diperlukan sebagai berikut.

a. Level 1: Reaksi Pengumpulan data evaluasi pada level ini adalah Survai dengan skala pengukuran yaitu skala Likert. Komponen-komponen tersebut berikut indikator-indikatornya adalah: 1. Instruktur/ pelatih. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur yang disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian pelatih dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan ketermapilan pelatih dalam mengikut sertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi. 2.Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan. 3.Materi. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan Forum Evaluasi, kesesuaian materi dengan peningkatan kualitas diri. 4.Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

b. Level 2: Pembelajaran Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi Forum Evaluasi yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta.

c. Level 3: Perilaku Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

d. Level 4: Hasil Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.

6.Tempat Pelaksanaan (terlampir)

7.Panitia Pelaksana dan Penanggung Jawab (terlampir)

8.Jadwal Kegiatan (terlampir)

9.Biaya Kegiatan (terlampir)

Perencana & Penanggung Jawab


Imraan Muslim

NIM: 1215 06 1040

Dipublikasi di performance technology | Tag , | Meninggalkan komentar

BerPRESTASI !! tidak berani coba??!

http://www.blackinnovationawards.com

Kompetisi Desain Alat Inovatif Black Innovation Award 2009

Kompetisi ini melombakan desain alat alat yang merupakan pengembangan ide, sehingga memunculkan bentuk baru yang lebih kreatif, yang memungkinkan dipakai oleh semua orang. Diharapkan dapat mendorong dan merangsang masyarakat untuk dapat mengembangkan bentuk penemuan penemuan itu melalui desain alat inovatif yang berguna bagi masyarakat.

Kompetisi ini juga memberi dukungan dan media bagi kreatifitas perorangan maupun kelompok di Indonesia. Dengan total hadiah sebesar 160 juta rupiah untuk :

  1. Uang tunai untuk masing-masing 4 pemenang utama, sebesar Rp. 25.000.000,-
  2. Uang tunai untuk 1 pemenang favorite Rp. 10.000.000,-
  3. Penghargaan berupa plakat dan uang tunai masing-masing Rp. 2.500.000,-  untuk 20 finalis yang terpilih.
  • Kategori Alat Rumah dan tempat tinggal Desain alat-alat yang mempermudah kegiatan domestik, dari mulai memasak, santai bersama keluarga, sampai membuat orang lebih cepat untuk berangkat kerja.
  • Transportasi Desain alat yang membantu kita selama perjalanan menuju suatu tempat, baik selama menggunakan kendaraan pribadi sampai transportasi umum, dari keadaan paling aman sampai situasi paling macet yang mungkin kita alami.
  • Kantor dan Pekerjaan Selain mempermudah pekerjaan kantor agar bisa lebih cepat diselesaikan, desain alat juga bisa berfungsi untuk mengatasi kebosanan kerja, menghadapi rekan kerja, atau pun membantu seseorang untuk meniti jenjang karir dalam waktu singkat.
  • Waktu luang, hobi dan hiburan Berbagai hal yang bisa kita lakukan di waktu luang, mampu menghasilkan beragam inovasi desain alat untuk memudahkan kita menikmati hobi, atau membuat kita lebih nyaman dan bahagia selama liburan.
  • Konsep desain alat yang dapat diikutsertakan :
  1. Desain alat harus orisinal.
  2. Desain alat harus dapat direalisasikan kedalam bentuk yang mempunyai nilai artistik dan imajinatif.
  3. Desain alat harus mempunyai fungsi tertentu dalam kegiatan keseharian.
  4. Desain alat bersifat untuk memudahkan sebuah pekerjaan / aktifitas yang berhubungan dengan keadaan keseharian.
  5. Desain alat dapat merupakan modifikasi, daur ulang atau penambahan fungsi dari alat tertentu yang sudah ada.
  6. Desain alat yang kemudian dibuat, tidak boleh menggunakan bahan bakar jenis apapun.
  7. Bila ada desain alat yang menggunakan sumber listrik, maka tidak melebihi kapasitas tegangan 9 Volt.
  8. Ukuran alat yang didesain bebas.
  9. Desain alat belum pernah diproduksi secara massal dan/atau diperjualbelikan.
  10. Karya desain belum pernah diikutkan dalam kompetisi sejenis dimanapun.
  • Materi desain alat yang telah dikirimkan dan didaftarkan untuk Black Innovation Awards dapat digunakan
  • sebagai materi publikasi untuk media yang berhubungan dengan kompetisi ini.
  • Keluarga dari pihak penyelenggara Black Innovation Awards tidak dapat ikut serta dalam kompetisi ini.

Ketentuan peserta

  1. Perorangan atau kelompok (maksimum 3 orang).
  2. Kewarganegaraan Indonesia batasan usia 18 – 35 tahun.
  3. Peserta harus mengisi formulir pendaftaran.
  4. Peserta dapat mengirim desain maksimal 3 karya desain.
  5. Peserta tidak dipungut biaya.
  6. Desain alat inovatif yang diikutsertakan harus sesuai dengan Kategori Alat yang sudah ditentukan.

Ketentuan Teknis Pendaftaran Online :

  1. Mengisi formulir pendaftaran.
  2. Pastikan alamat email anda benar.
  3. Informasi Login, konfirmasi karya akan dikirimkan via email.
  4. Untuk pendaftaran online, peserta wajib menyertakan minimum 1 karya.
  5. File yang di UPLOAD adalah Digital image (data) dalam format jpeg (CMYK).
  6. Dengan ukuran image berukuran A4 (21x29cm) dengan resolusi 100 dpi, maksimum 250kb per file

KALAU ADA YANG TERTANTANG …!!!

JUST DO IT !

Dipublikasi di 1, meng-inspirasi diri | Tag , | Meninggalkan komentar